Kamis, 27 Juni 2013

Mengolah ikan pari

Ikan pari punya bentuk yang unik dibandingkan teman temannya. Fisiknya yang pipih dan ekor yang panjang membuat keindahan tersendiri. Pari biasa berdiam di pasir untuk berkamuflase. Kalau kalian melakukan snorkeling atau jalan jalan di pantai berhati hatilah karena si pari yang punya duri beracun di ekornya ini kalau terinjak bakal nusukin ke kaki kamu. Walaupun racunnya tidak mematikan, tapi bisamembuat demam kalau tidak cepat diobati.

Hari itu pasar di desa karimunjawa sudah dimulai pagi pagi. Saya dan teman teman sudah bersiap siapp berburu makanan apa yang bakal dijajakan. Pasar ini menjual banyak sekali jenis ikan. Walaupun jangan berharap ada udang, cumi, sotong, kepiting, apalagi lobster. Karena disana sifatnya musiman. Ada musim tertentu untuk mendapatkannya, misal untuk cumi banyaknya kalau lagi terang bulan dan lain sebagainya.


Selama kurang lebih tiga bulan saya tinggal disana, ikan ekor kuning menjadi favorit saya. Kemudian ikan kedua yang sangat saya kangeni kemanisannya adalah tongkol segar yang dibakar malam hari dengan menggunakan air garam saja. Ikannya bisa sangat manis karena baru ditangkap sore harinya. Kalau kata orang papua di buku trinity, ikan sekali mati hehe. Neda sekali dengan ikan tongkol yang saya makan di kampus di warteh yang rasanya sudah dominan bumbu dapur dan rada hambar. Entah proteinnya sudah terdenaturasi berapa persen dari yang kalau kita makan sekali mati tadi.

Ok, back to topik si ikan pari. Jadi, penjual disana tidak ada yang memasak ikan pari di warungnya. Including si rumah makan bu ester atau sintong. Dan saya sangat penasaran banget gimana rasanya si ikan pari ini. Sampai akhirnya suatu pagi saya belilah satu ikan dari seorang ibu seharga 10000 kalo gak salah. Ukurannya cenderung kecil, jadi kalau mubazir gak banyak banyak banget pikir saya.

Sedihnya, teman teman saya gak ada yang mau diajak buat masak ikan ini. Mereka udah illfeel duluan pas lihat bentuknya. Belum lagi pas ada adegan saya memencet perut si ikan dan keluar fesesnya amburadul berwarna hijau. Yang ada mereka jejeritan dan saya sendirian :_( . Tapi niat saya buat mengolah si ikan ini tidak berakhir. Bermodalkan cuma wajan dan sodet serta bumbu bawang merah, cabe merah, terasi, dan garam saya membalado pari ini bak orang yang sudah ahli. Sayapnya yang gede, saya potong supaya muat dibolak balik di dalam wajan.

Tidak lama, bau bumbu yang saya masak tampaknya mendominasi seluruh mess. Ikan pari balado pun sudah matang. Saya dan teman teman yang lainpun coba mencicipi sedikit takut kalau tidak enak. Ternyata rasanya lumayan sih, mungkin karena stereotype ikan sekali mati tadi jadi apapun ikannya pasti masih manis. Pari yang punya tekstur pipih ini ternyata banyak tulang rawan pada bagian bagian tertentu, sehingga kalau digigit ada sedikit rasa renyah yang bisa kita rasakan. Ooh begini toh rasanya... Ikan tadi pun coba saya tawarkan ke Mbak rotun, dan dia bilang biasanya di asep biar lebih empuk.

Selama di karimun saya cuma sekali saja masak si ikan pari, setelahnya saya mencoba masakan suatu rumah makan di pulau jawa pada saat perjalanan pulang dari semarang menuju jakarta. Rumah makan tersebut menjual ikan pari sebagai laukya. Setelah saya coba, weikz enakan yang pernah saya masak. Akhirnya saya membeli lauk baru untuk menjadi teman sahur saya pagi itu. Semoga di lain kesempatan saya bisa coba masakan pari yang buat ketagihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar