Rabu, 15 Februari 2017

Ikut Lomba Part 2

Gua inget, dulu pas jaman kuliah. Ada satu kompetisi memasak juga. Yang mengadakan temen temen satu jurusan sendiri. Bahan bakunya juga tempe, sama kaya kompetisi yang gua kerjain tahun ini bareng Adi. Bedanya, tahun 2009 (kalo gak salah) gua mesti buat menu yang lansung dibuat dan dibuat dalam satu tim.

Kali itu pilihan gua, jatuh ke anak laki laki berbadan besar yang bernama Ari. Ari ini tukang makan. Bisa dilihat dari size badannya yang montoq. Sebagai orang yang tukang makan, sudah pasti mindset Ari untuk makanan adalah enak dan enak sekali. Tapi karena beliau baik hati dan kadang royal untuk jajanin gua makanan.

DI kala itu, kita sama sama sibuk untuk ngerjain proyek dalam acara yang berbeda tapi masih satu rangkaian. Alhasil, mau belanja bahan pun dilakukan last minute. Nggak sempet browsing resep, beli bahan juga asal asalan, maunya murah tapi bagus. Usaha yang gak serius itu kita mesti hadapi sewaktu lomba akan dimulai.


Gua inget banget, ada peserta dari jurusan lain yang membawa bumbu halus sudah jadi. Bahan bahannya sudah diprepare dengan cantik kaya Farah Quinn mau masak. Bedanya dua mbak dari jurusan ini gak bahenol dan pake kuteks. Ada juga peserta ade kelas yang bawa belanjaan bahan makanannya dari supermarket Giant. Yang artinya mereka harus menempuh 30 menit alias 1 jam bolak balik untuk  bela belain ikut lomba skala satu kampus ini (karena dari luar gak ada yang ikut).
Yaudah, nasi sudah menjadi kerak. Akhirnya kita mengerjakan lomba dengan gak terlalu semangat dan sportifitas yang menjua jua. Ari dan gua pun gak jelas punya jobdesc apa. Akhirnya dari awal sampe terakhir kerjaan kita berantem terus kerja. Berantem lagi terus masak. Dan ketika waktu menunjukkan tinggal 3 menit lagi mau usai, gua melakukan aksi membuat saus atau glaze dari kecap. Dimana entah teknik atau kebodohan apa, terjadi teknik yang namanya flambe di fry pan yang kita pakai.

Boro boro nyicip, yang penting tampilan cantik dan chic. Tampilan nomer satu, nomer dua keberanian, rasa nomer sekian.

Akhirnya semua peserta menampilkan hidangannya di ruang cafeteria. Kelihatan sekali mana kelompok yang niat dan kelompok yang kaga niat. Brokoli yang saya gunakan warnanya sudah overcook. Mau sok sok-an pakai keju melted di atasnya, masih lumpy juga karena gak cukup waktu. Komentar yang paling saya ingat dari juri adalah bumbu glaze nya ini gak sehat, sudah ada proses pembakaran. Ini kecap kan? Disitulah gua sadar dan terbangun. Bahwa rasa gak bisa bohong. Dan yang namanya masak untuk lomba atau sekedar demo di depan orang banyak, harus punya jam terbang yang tinggi. Atau nggak, yaa grogi kaya begini.

That’s why dari pengalaman itu juga, gua tahu rasanya deg deg-an, pecah konsentrasi, dan panik kalau lihat acara lomba masak kayak masterchef, hell’s kitchen dan lain lain. Wih apalagi hell’s kitchen, mana ada sih orang yang bisa sehat kalau kerjaannya dibentak bentak mulu. Walau memang ada kalanya kalau kerja di operation harus dikerasin.

Lah, cerita lomba masak tahun 2017 mana. Nanti ada dipostingan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar